INILAH PENGALAMAN MENGAJAR YANG MEMBUATKU MENJADI

Susi Susanti dan Alan Budikusuma saat itu adalah pasangan emas bulutangkis Indonesia. Mereka berdua berhasil menjuarai Olimpiade Barcelona. Semua rakyat Indonesia menyambut kebahagiaan emas pertama untuk Indonesia.

Dibelahan bumi Ken Arok aku juga merasakan kebahagiaan lebih, selain ikut dalam suka cita emas olimpiade. Ya, di tahun itu aku mulai di angkat menjadi abdi negara, sebuah kesibukan yang cukup prestis pada waktu itu.

Di daerah nukus ini adalah awal mula aku berkarir menjadi seorang guru hingga di angkat menjadi PNS dan dipindah tugaskan di ujung jawa timur.

— —
Bersama istri, kami sementara tinggal di rumah keluarga istri. Setahun setelahnya rejeki bertubi-tubi datang, kami dikarunia seorang bayi ganteng yang menambah semangatku dalam bekerja.

Dengan berpindah ke sebuah tempat baru, membuatku sedikit kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, budaya baru, dan siswa baru. Aku mulai sedikit mengubah gaya mengajarku tetapi hanya satu yang tidak berubah.

Aku dikenal oleh para murid sebagai tukang mendisiplinkan siswa. Berbagai jenis rambut kriwul, lurus, bergelombang, rambut berminyak, rambut tidak pernah keramas pernah kucukur.

Atribut siswa yang tidak sesuai dengan identitas sekolah sudah ratusan lebih aku disiplinkan. Sepeda pretelan akan aku jemur jika di bawa ke sekolah.

Siswa kelahiran 80an sampai 90an pasti pernah merasakan kedisiplinan dari aku. Konon orang-orang bilang bahwa kedisiplinanku terkenal sampai sekolah sebelah.

— —
Mencari riski di kota ini tidak hanya menjadikan aku sebagai seorang guru PNS dan tulang punggung keluarga, aku juga menjadi tulang punggung dua keluarga. Tak ingin memberatkan beban, aku dengan senang hati membantu semua urusan yang ada di rumah ini.

Seperti ada kepuasan tersendiri jika diri ini menjadi tulang punggung keluarga ini. Rutinitas membayar listrik, pdam, membenarkan genteng bocor, hingga sedikit renovasi rumah membuat aku mempunyai rasa bangga lebih dan bermanfaat.

Tak terasa sudah usia aku sudah paruh baya di kota T ini, sampai aku di karuniai 2 orang anak yang lucu. Suasana rumah menjadi semakin hidup, semakin rame, candaan dan tangisan kadang membuat istri jengkel-jengkel senang.

— —
Si bungus sekarang kian bertambah dewasa, ia mulai mengerti akan tanggung jawabnya. Sebagai seorang anak laki-laki dia sudah belajar mandiri seperti masa mudaku dahulu. Ini dibuktikannya dengan kuliah tanpa bayar uang semester.

Berbagai beasiswa bisa diraihnya hingga di lulus kuliah. Selepas kuliah dia juga tidak pernah menyusahkan ayah dan ibunya. Alhamdulillah dia langsung diterima kerja di salah satu rumah sakit terbesar di Jawa Timur.

Saat bekerja disana dia juga diam-diam membantu adiknya yang sedang kuliah di kota yang sama. Tak jauh beda dengan kakaknya, si adik juga merupakan anak yang penurut dan juga cerdas.

Dia lebih memilih tinggal bersama tantenya untuk bisa menjadi mahasiswa “kupu-kupu” agar bisa membantu pekerjaan rumah daripada kelayapan seperti teman-temannya.

Aku dan istri sangat bersyukur sekali mempunyai dua orang anak yang bisa berbakti kepada orang tuanya.
— —
Akhirnya kurang 2 tahun lagi aku memasuki masa purna tugas. Berbagai pengalaman asam manis sudah aku rasakan semuanya. Anak-anak juga sudah mulai dewasa semuanya. Segala kasih sayang dan pendidikan terbaik sudah kami usahakan semua.

Namun aku tersadar ada satu yang belum kuberikan untuk anak-anakku.

Sedih, ternyata kami belum pernah merasakan kehangatan keluarga ayah, ibu, dan dua orang anak. Ku nyalakan mesin supraku, dan kudatangi setiap kantor dan proyek perumahan.

Hampir dua bulan aku mutar-mutar di kota ini bersama istri tercinta. Namun apa daya, banyak kantor yang menolak data diriku. Sempat kecewa dan akhirnya ingin menyerah.

Untungnya ada anak-anakku yang bisa selalu menenangkan orang tuanya. Hiburan datang dari si bungsu. Tak tahu kapan dia ikut tesnya eh ternyata di diterima menjadi CPNS kementerian pendidikan di Jakarta.

Kasar kata anak yang dulunya kubesarkan, sekarang menjadi bosku di dunia pendidikan. Hahaha

Ibunya bangga luar biasa dengannya. Sama seperti ibu-ibu yang lain jika anaknya sukses akan dengan bangganya di ceritakan pada temannya agar dapat memotivasi yang lain.

Di alun-alun ke kota banyak sekali bendera merah-putih dan umbul-umbul. Orang-orang pasti tahu kalau bulan itu adalah bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia.

Tak terkecuali denganku. Di bulan adalah salah satu bulan dan tahun yang membahagiakan bagiku. Impianku pada bulan itu akhirnya terwujud.

Takdir Tuhan aku diketemukan dengan muridku yang puluhan tahun tidak bertemu. Usut punya usut ternyata dia salah satu pendiri perusahaan perumahan yang terkenal di Tuban, GRANADA PROPERTY.

Kami para guru-guru di buat bangga dengannya. Dia menawarkan untuk membantu mewujudkan impian keluarga kita yaitu untuk mempunyai rumah. Aku bilang “Apakah dengan usia kepala 5 saya bisa angsur rumah?”

Seolah tidak ingin mengecewakan gurunya, dia dengan yakin bilang “BISA dan saya kasih diskon”. Kuucapkan syukur padaNya, ternyata waktu yang akan menjawab semua usaha kita.

Singkat cerita aku di pandu oleh tim GRANADA PROPERTY. Hingga di bantu untuk mengajukan kredit atas nama anakku. Awalnya kami sebagai orangtua tidak mau untuk menyusahkan anak, tetapi anakku dengan senang hati ikut membantu impian orang tuanya. Dia mau ikut urunan membayar angsuran rumah kami.

Hati kecil saya menangis waktu, terima kasih ya Allah engkau telah memberikan kami anak-anak yang selalu berbakti pada orang tua.

Ini adalah sebuah pengalaman luar biasa yang terjadi di usiaku yang 50+. Pak tua ini belajar bahwa:

1. Tuhan akan menjawab semua kerja keras kita
2. Tuhan akan mengabulkan impian suci kita
3. Tidak ada mantan murid
4. Anak adalah rejeki yang LUAR BIASA dari Allah

Alhamdulillah, terima kasih istri dan anakku
Alhamdulillah, terima kasih Toni Wibowo
Alhamdulillah, terima kasih GRANADA PROPERTY

Tinggalkan Balasan